Jepang, salah satu negeri yang sangat ingin aku kunjungi sejak aku masih kecil. Aku menulisnya sebagai mimpi urutan ke-4 dalam dream list punyaku. Dan Tuhan mengabulkannya tahun ini, hal yang sangat luar biasa bukan. Aku kembali teringat dan percaya nasehat lama. “Tulislah mimpimu pada secarik kertas maka kekuatan terkabulkannya akan menjadi dua kali lebih cepat”, begitu kata seorang motivator terkenal.
Kini mimpiku menuju negeri sakura akan terjadi dalam hitungan bulan saja. Bahkan, saat ini pun aku masih tidak percaya, meski telah berulang kali Aku melihat pengumuman yang terpampang di mading kampus untuk meyakinkanku. Tertulis 12 mahasiswa agrokompleks yang terpilih mengikuti program KKN Internasional SUIJI-SLP dan namaku ada diantaranya.
Aku menjadi salah satu peserta termuda dalam program ini. Untungnya aku tak sendiri, seorang peserta lain memiliki angkatan yang sama denganku, 2012. Tapi tetap saja, aku adalah peserta yang paling muda.
Mereka yang terpilih menurutku orang-orang yang hebat. Ada kak Fahri yang memenangkan kejuaraan PIMNAS PKM sebanyak 2 kali, kak Dayat seorang pengusaha muda yang sukses, kak Ayu yang juga adalah model dan presenter salah satu program kompas tv, lalu si kembar kak Ocha dan kak Maybe mahasiswa kedokteran hewan yang sudah sering bolak balik luar negeri. Karena begitu banyaknya prestasi mereka, beberapa teman yang lainnya tak sempat lagi Aku ingat. Oh iya, belum lama ini kak Imran kembali melulusi program pertukaran pelajar ke Kyoto Jepang tahun ini, hebat.
Aku memang harus banyak belajar dari mereka, terutama kak Imran yang mampu melulusi tes wawancara program pertukaran pelajar itu. Aku jadi terpikir, apa mungkin karena senyumnya yang manis yang memudahkannya lulus dalam tes tersebut, seperti kata sensei kami waktu itu. Hmm, ada baiknya aku coba.
***
Program KKN SUIJI merupakan program KKN yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir tetapi untuk pertama kalinya tahun ini dapat diikuti oleh angkatanku, mahasiswa yang telah menyelesaikan semester 4. Namun, salah satu syarat wajib bagi angkatan 2012 adalah telah melulusi 90 SKS.
90 SKS!!! Jumlah SKS-ku bahkan belum genap 90, dari hasil yang ku peroleh hingga semester 3 kemarin. Dan saat ini, Aku masih dalam masa ujian semester 4. Jumlah itu hanya dapat aku penuhi jika semua mata kuliah yang sedang aku program memperoleh nilai cukup tinggi. Tapi aku yakin bahwa aku dapat melulusinya dengan baik.
Aku pun memberanikan diri untuk mendaftar program KKN SUIJI ini. Pikirku, apa salahnya mencoba, bukankah masalah lulus atau tidak nanti dapat kita ketahui setelah mencobanya bukan.
Dan pada akhirnya aku melulusi program KKN ini. Rupanya syarat 90 SKS itu hanya semacam gertakan untuk melihat siapa angkatan 2012 yang berani dan percaya diri mengikuti program ini, begitu kata seorang sensei perempuanku yang cantik.
***
Masih terngiang jelas dibenakku hari pengumuman itu. Sebelum menyaksikan pengumuman di mading, Aku lebih dahulu bertemu dengan penasehat akademikku. Mengejutkan, karena Ia merupakan orang pertama yang memberitahu dan memberi ucapan selamat atas kelulusanku, sementara aku sendiri belum memperoleh kabar gembira itu.
Siang itu Aku bercerita banyak dengannya. Ada kalimat menarik yang menjadi bahan diskusi kami waktu itu. Beliau mengatakan, “nak, dalam hidup ini kita haruslah menjadi sebuah bunga, bukanlah seorang penangkap kupu-kupu”.
Aku sempat berfikir keras memikirkan makna kalimat ini, mencoba menerka maksudnya.
Dan ternyata makna kalimatnya cukup sederhana dari yang aku pikirkan. Bunga yang dimaksud adalah sebuah sikap, sebuah sikap yang beliau harapkan dapat menjadi contoh orang-orang di sekitarku nantinya ketika pulang. Sebuah sikap yang kemudian dapat menginspirasi teman-temanku juga untuk bermimpi jauh kedepan dan ikut merubah beberapa pemikiran mereka ketika memandang sesuatu setelah aku pulang membawa banyak cerita dan pengalaman nantinya.
Pergi ke jepang, melihat langsung dan menjadi orang yang terlibat, langsung mempraktikannya, diharapkan menjadi bekal yang baik bagiku ketika kembali ke dunia kampus lagi. Jepang dan Indonesia bagian Makassar, tentunya memiliki kondisi sosial yang sangat berbeda.
Jepang adalah alasan untuk menjadi bunga. Tidak memiliki alasan untuk menjadi contoh orang-orang di sekeliling kita dapat diibaratkan sebagai seorang penangkap kupu-kupu.
Jujur, setelah berdiskusi dan mendapatkan selamat dari beliau aku sedikit merasa terbebani. Bukankah ini semacam amanah yang besar. Akan tetapi dari makna yang ku tangkap diakhir diskusi, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri, belajar dengan caraku sendiri. Dan sebagai manusia dewasa, setelah belajar dari dua kondisi yang berbeda, aku harus membandingkannya dan hanya mengambil dan menerapkan yang baik saja. Dari sinilah kita dapat berharap semoga orang di sekeliling kita mau melihat dan ikut juga menjadi lebih baik.
Teman, tahukah engkau, berdiskusi satu kalimat bermakna dapat membuat kita berfikir jauh lebih keras dibandingkan dengan ujian 3 mata kuliah, tetapi sangat membekas di hati.
Setelah berpamintan dan berterimakasih padanya, aku pun bergegas menuju ke teman-temanku. Tak sabar untuk membagi kabar gembira ini kepada mereka. Namun, rupanya mereka telah mengetahuinya lebih dahulu. Pengumuman yang tertempel di mading telah lebih dulu mengabarkannya, mendahuluiku. Aku curiga, seperti selama aku berfikir keras tadi pengumuman itu sedang dalam proses penempelan. Senyumku menyungging, sungguh hari yang indah, bersitku dalam hati.
***
Butuh waktu tigabulan untuk melakukan persiapan program KKN SUIJI ini. Menghabiskan waktu libur panjangku di akhir semester, juga melewati bulan puasa. Sebagian besar hidupku lima bulan itu dihabiskan bersama 11 orang manusia yang mengajariku banyak hal. Kadang membuat tertawa, juga dihiasi sedikit pertengkaran, berdiskusi masalah uang hingga gosip yang tidak terbantahkan. Hari-hari yang sangat menyenangkan.
Dalam masa persiapan itu, kami belajar mengenai tata bahasa jepang, berfikir keras untuk ujian TOEFL, serta belajar mengenai segala aturan tidak tertulis di Jepang seperti tata cara makan, penggunaan toilet, membuang sampah hingga cara membuang abu rokok bagi seorang perokok.
Mungkin bagi sebagian orang di luar sana, ini adalah peraturan yang rempong alias rumit. Tapi menurutku, percaya atau tidak, ini merupakan salah satu keajaiban. Orang Jepang mampu menerapkan segala peraturan tidak tertulis dengan baik dan peraturan itu kemudian menjadi budaya turun temurun di antara mereka.
Di saat sebagian besar pemuda di dunia ini menuntut kebebasan beraspirasi, pemuda Jepang malah sibuk mematuhi aturan yang begitu banyak dan begitu detailnya. Dan saat ini mereka tetap menjadi negara yang hebat dan memiliki pemuda yang luar biasa. Di saat bersamaan, kebebasan beraspirasi menjadi alasan utama para pemuda untuk bergerak maju dan tidak mematuhi aturan yang dibuat oleh pemerintahnya. Hal yang harus ditemukan jawabannya nanti.
***
Salah satu rangkaian persiapan yang paling menarik adalah ketika kami mengunjungi kedutaan besar Jepang yang ada di makassar. Hari yang tidak mngkin pernah aku lupakan karena itu adalah hari pertama aku bertemu dengan Japanese asli.
Beliau bernama Masaki Tani, pribadi yang sangat humble dan suka sekali tersenyum, aku bahkan tidak pernah berhenti tersenyum dan memperhatikan tingkahnya hingga akhir pertemuan itu selesai.
“Seperti anak kecil” ini kesan pertama yang terlintas dipikiranku ketika melihat tingkah Japanese yang diwakili oleh beliau kali ini. Beliau memperkenalkan dirinya dengan hormat, kemudian menanyakan kabar kami satu persatu sambil tersenyum. Ia kemudian menceritakan pengalamannya selama di Makassar. Panas katanya, cuaca di Makassar cukup panas dibanding dengan Jepang yang berada di daerah subtropis. Diakhir pertemuan, ia meminta kami untuk menyampaikan salam pada teman lamanya ketika bertemu di Jepang nanti.
Pertemuan yang sangat menyenangkan. Kami bertemu dengan orang penting tanpa perlu merasa kikuk ataupun takut ketika ingin mengutarakan hal apapun. Hal yang sangat membuatku terkesan hari itu yaitu ketika kami ataupun dosen kami mengutarakan sesuatu, ia terlihat sangat memperhatikan. Ia terlihat sangat serius dan selalu mengangguk setiap kami selesai mengucapkan satu pernyataan. Sebelum pulang, kami diberi map bergambar doraemon yang bertuliskan duta budaya dan juga membebaskan kami dari biaya visa sebagai buah tangan untuk kami siang itu. Sungguh hari itu adalah hari yang sangat menyenangkan.
***
19 Agustus 2014, satu impianku akan terwujud, pada tanggal itu aku akan berangkat ke Jepang dan memijakkan kakiku di negeri sakura. Sepekan sebelum tanggal itu, aku dan teman-teman yang lain telah menyiapkan semua berkas administrasi untuk mendapatkan tiket. Rencanannya kami akan berangkat menuju Jakarta, lalu transit di Korea Selatan sebelum kemudian tiba di bandara Matsuyama Jepang. Rasanya sungguh tidak sabar untuk segera sampai di sana, menerapkan semua ilmu yang telah kami pelajari di sini serta melihat secara langsung budaya masyarakat jepang diterapkan. Apakah memang serumit seperti yang kami bayangkan sebelumnya, letssee !
Bersambung ....



0 komentar:
Posting Komentar