Selasa, 30 Desember 2014

Dream Comes True #2

JEPANG  WITH  INDONESIA
Jepang, 20 Agustus 2014
Hari yang aku tunggu akhirnya datang juga menyapa. Pada akhirnya aku akan menjalani mimpi yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari harapan seorang manusia pada Tuhannya. “Terima kasih Tuhan”, kalimat yang selalu aku ucapkan saat ini. Dan kau tahu, aku bahkan tidak pernah berhenti mengucapkannya, bahkan waktu pertama kali pesawatku lepas landas dari Makassar hingga landing di bandara Internasional Matsuyama Jepang.
Rasa takut masih tersisa banyak ketika aku tiba di Jepang waktu itu akibat turbulensi yang terjadi pada pesawat sesaat sebelum mendarat. Tetapi sama sekali tidak menghalangi semangatku untuk segera melewati serangkaian proses administratif dan menginjakkan kaki di daratan Jepang yang sesungguhnya.
“Selamat datang di Jepang”, ucap salah satu petugas bandara dengan terbata-bata yang terdengar aneh karena mungkin dipengaruhi oleh aksen bahasa jepang. Aku tersenyum membalas ucapan lelaki bermata sipit yang terlihat sangat ramah itu. Sejenak rasa lelah ini terobati dengan ramahnya petugas bandara yang melayani kami. Setiap petugas terlihat sangat bersemangat melayani kami dan kelihatannya sangat tahu kalau kami dari Indonesia. Setelah mendapatkan paspor dan barang-barang kami kembali, kami segera bergegas keluar.

Foto bersama di bandara Matsuyama sebelum berangkat menuju asrama
Diluar kami telah ditunggu oleh beberapa sensei dan mahasiswa yang akan membantu kami selama disini. Setelah mendapatkan ucapan selamat datang dan beberapa arahan mengenai bus dan asrama yang akan kami tinggali, kamipun berangkat bersama-sama.
***
Apa yang kalian tahu tentang Jepang ??
Bersih, rapi, teratur, bikers, anime, manga, kartun, mata sipit, mungkin itu adalah sebagian besar jawaban kita ketika ditanya  apa yang kita ketahui tentang Jepang. Dan seperti itulah kondisi yang terlihat sepanjang jalan menuju asaramaku sore itu.
Perjalanan menuju asrama membutuhkan waktu sekitar 2 jam dan walaupun mata ini sangat lelah tetapi tidak rela rasanya mengisinkannya untuk tertidur dan melewatkan moment untuk melihat situasi kota Jepang untuk pertama kalinya.
Tenang adalah kata yang pantas untuk menggambarkan kota Matsuyama kala itu, mungkin keberadaannya yang cukup jauh dari kota besar seperti Tokyo dan Osaka menjadi alasan mengapa kota ini terlihat tidak begitu sibuk oleh aktivitas manusia. Di sini masih terlihat rumah-rumah, supermaket, bengkel, gedung-gedung besar yang bersandingan langsung dengan petak-petak sawah berukuran kecil.




Rumah jepang, jalan, sepeda, kereta api.
Sepanjang jalan aku bisa melihat deretan rumah-rumah khas Jepang yang terbuat dari beton-beton besar, dari yang ku tahu ciri khas hal ini untuk menghindari serangan thypon yang sering menyerang Jepang.
Toko-toko yang bertuliskan hiragana ataupun katakana, para pengendaraa sepeda berlalu lalang di tracknya sendiri, puluhan sepeda terparkir di depan tempat-tempat umum, kereta api tepat di samping busku, ataupun seorang nenek yang sedang lari sore bersama anjing peliaraannya, mataku bebas memandang ke arah manapun yang kumau.
“Kondisi jalan di sini sangat nyaman”bersitku dalam hati.
Sepanjang jalan aku bisa melihat semuanya dari segala sisi karena luasnya jalan yang tidak sebanding dengan volume kendaraan yang bisa dihitung jari untuk bahkan setiap kali pemberhentian lampu merah, tidak ada traffic jam ataupun lomba balapan mobil, bahkan aku tidak pernah mendengar bunyi clackson dan derungan kendaraan lain sepanjang perjalananku.
Ada hal yang menarik perhatianku sore itu, sebagian besar kendaraan hanya didominasi mobil-mobil kecil untuk 4 orang penumpang dan motor bebek yang terlihat sangat lambat berjalan dan hanya dapat dikendarai satu orang. Aku diberitahu batas kecepatan untuk sepeda motor hanya 60 km/jam.
Aku sejenak tidak percaya ketika diberitahu itu dan bertanya apakah mereka tidak pernah terlambat dengan laju kendaraan sebatas itu. Dan tentu jawabannya tidak, sungguh mengagumkan. Hal kecil seperti inilah yang kemudian dapat melatih mereka untuk memperhitungkan waktu dengan sebaik mungkin agar tidak perlu balapan diujung waktu.
***
(Kantin. Anak kecil yang diam-diam aku ambil gambarnya, sedari tadi aku perhatikan dia membawa tas atlit yang sangat berat dan ketika di kantin mengambil makanannya tanpa di bantu. Aku rasa umurnya lima tahun.)
Waktu makan hanya berlangsung dari pukul dari pukul 07.30 hingga 08.30 di kantin, terlambat sama saja melewatkan sarapan pagi karena kantin akan ditutup tepat pada pukul 08.30 sama halnya untuk jam makan siang dan malam kantin akan dibuka dan ditutup sesuai dengan jadwal setiap harinya.
“Ohayyo gozaimasu”
“Ohayyo gozaimasu”
Di kantin suara gemuruh manusia yang mengucapkan selamat pagi terdengar beradu dengan suara sibuknya panci-panci bergesekan didapur dan semua orang terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Kantin di Ozu menggunakan sistem prasmanan sehingga aku dapat memilih menu makanan apapun yang aku mau. Tetapi untuk mengambil jalan tengah agar bisa makan dengan nyaman tanpa perlu merasa khawatir akan rasa dan halal haramnya makanan, biasanya aku lebih memilih mengambil roti dan segelas susu dingin untuk sarapan.
Tetapi kami tidak perlu merasa khawatir ketika akan makan karena dengan sigap akan ada mahasiswa Jepang yang akan memberitau boleh atau tidaknya kami makan setiap menu yang tersedia. Mereka telah diberitau sebelumnya oleh sensei bahwa mereka wajib mendampingi setiap mahasiswa muslim Indonesia ketika akan makan karena ada makanan yang tidak dapat kami makan.
Dan jadilah kami vegetarian selama di sini karena untuk daging ayam pun kami tidak boleh memakannya karena tidak dibacakan doa kata teman Jepangku yang ditunjukkan dengan bahasa isyarat, sungguh lucu saat mereka mempraktikan gaya ayam yang tidak dibacakan doa sebelum dipotong.
Sebelum dan setelah makan biasanya kita habiskan sambil bercerita mengenai kegiatan pagi ini ataupun bertukar pikiran mengenai budaya di negera kami masing-masing. Salah satu yang menarik adalah kebiasaan orang Jepang yang selalu menghabiskan makanannya hingga tidak tersisa walau untuk sebutir nasi. Mereka sangat menghargai hasil pertanian dan ada kepercayaan cerita mengenai ada dewa di setiap hasil pertanian seperti beras menjadi cerita lucu yang diceritakan temanku.
***
Suasana Kuliah Malam

Kami berada di Ozu sekitar 2 hari dan menerima banyak materi mengenai Jepang secara umum dan permasalahan utama yang mereka hadapi. Permasalahan utama yang Jepang hadapi sekarang ini adalah mengenai menurunnya populasi  pemuda yang ingin tinggal didesa sehingga populasi manusia dipedesaan semakin sedikit dan mengakibatkan laju urbanisasi dapat hingga 90% . Desa-desa hanya dihuni oleh orang  tua berumur antara 50 hingga 80 tahun.
Persentase Laju Urbanisasi

Kondisi ini dipengaruhi oleh modernisasi yang berlangsung sangat cepat di Jepang. Semua orang berlomba-lomba untuk sekolah dan mendapatkan pekerjaan di kota-kota besar yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab mereka akan menikah dan tinggal di kota. Hal ini kemudian memicu pemerintah sekarang ini untuk membuat kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk mengerem modernisasi dan mengingatkan  masyarakat Jepang kembali mengenai pentingnya tradisionalitas.
Kami diceritakan bahwa modernisasi di Jepang terjadi karena rasa keingintahuan masyarakat Jepang yang sangat besar. Ketika mereka menemukan sesuatu, mereka tidak akan berhenti mengembangkan apa yang mereka temukan hingga menemukan sisi paling praktis atas apa yang mereka temukan.
Contohnya toilet, dahulu toilet di Jepang sama dengan toilet tradisional biasanya tetapi mereka terus mengembangkannya hingga menjadi seperti sekarang yang sangat modern. Toilet dengan banyak tombol yang dapat meringankan kerja manusia bahkan ketika mereka berada di toilet.
Aku juga merasa seperti itu waktu pertama kali menggunakan toilet di Ozu yang modern yang sedikit membuatku bingung ketika pertama kali menggunakannya. Banyak pilihan toilet yang dapat aku gunakan tetapi sebagian besar jenis toilet yang membuatku bingung karena memiliki banyak tombol. Ditoilet itu kita dapat menemukan berbagai macam tombol yang memiliki fungsi yang berbeda seperti tombol pembasuh ketika buang air besar, buang air kecil, bahkan yang paling lucu terdapat tombol sound. Jika dipencet tombol ini akan mengeluarkan suara semacam nyanyian yang dapat kita atur volumenya. Dari apa yang kudengar hal ini karena sifat pemalu yang dimiliki oleh orang Jepang sehingga untuk buar air saja mereka akan sangat malu jika mengekuarkan bunyi yang aneh.
“Modernisasi terjadi karena perubahan pada hal kecil yang dipengaruhi hal kecil lain dan dipengaruhi hal kecil lainnya lagi hingga menjadi perubahan yang sangat besar”, ucap senseiku waktu itu.
Modernisasi tercipta, sisi praktis dan kemudahan dalam bekerja terus ditemukan sehingga tidak ada yang ingin tinggal didesa yang terlihat tradisional dan tidak menjanjikan apapun fikir pemuda.
Sehingga kita tidak boleh meremehkan hal kecil karena hal kecil akan menjadi perubahan besar bahkan sangat besar jika terus diusahakan pengembangannya. Dan jangan lupa dalam proses berkembang itu siapkan kendali yang hebat agar dapat menghandle semua resiko yang mungkin tercipta dari perubahan yang terjadi. Karena pada hakikatnya modernisasi diusahakan agar dapat meringankan pekerjaan manusia bukan sebaliknya menambah permasalahan.
Ada kata-kata menarik di akhir kuliah malam waktu itu
“Jangan mengikuti modernisai Jepang, jangan !!” lanjutnya.
Hal yang sangat menarik bukan, disaat semua mata berkiblat pada kecanggihan teknologi yang ada di negeri ini tetapi mereka sebaliknya berusaha untuk mengerem modernisasi yang terjadi karena permasalahan yang ditimbulkannya sangat kompleks.
***
Selama proses belajar mahasiswa Indonesia dan Jepang menunjukkan sikap yang berbeda ketika mereka mulai merasa jenuh. Sebagian mahasiswa Indonesia terlihat mengobrol dan bermain handphone, sebaliknya mahasiswa Jepang sebagian besar terlihat tidur ketika mulai merasa bosan. Perbedaan yang kontras tetapi bukankah tidur akan lebih baik dibandingkan kita mengobrol karena akan mengganggu teman kita yang kemungkinan ingin mendengarkan materi.
Proses belajar berlangsung sangat menyenangkan dengan model diskusi yang santai. Kami selalu diajak untuk bercerita ataupun menanggapi sesuatu serta melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Hari itu saya belajar banyak bahwa semua hal di dunia ini haruslah selalu dilihat dari kacamata yang berbeda sekalipun hal itu sudah kita anggap sangat benar.
Setelah mendapatkan materi yang cukup selama dua hari kami kemudian melanjutkan perjalanan kami menuju site kami masing-masing yang menjadi tempat kami melaksanakan program KKN. Masing-masing orang dibagi menjadi beberapa kelompok dengan site yang berbeda-beda dan saya ditempakan di sebuah desa Ogawa yang merupakan bagian dari daerah Yasuda Perfecture. Pekerjaan kami sesungguhnya dimulai hari itu.
Bersambung ...




0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 Adhe Siska
Theme by Yusuf Fikri