| JEPANG WITH INDONESIA |
Jepang, 20 Agustus 2014
Hari yang aku tunggu akhirnya datang juga menyapa. Pada akhirnya aku akan menjalani mimpi yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari harapan seorang manusia pada Tuhannya. “Terima kasih Tuhan”, kalimat yang selalu aku ucapkan saat ini. Dan kau tahu, aku bahkan tidak pernah berhenti mengucapkannya, bahkan waktu pertama kali pesawatku lepas landas dari Makassar hingga landing di bandara Internasional Matsuyama Jepang.
Hari yang aku tunggu akhirnya datang juga menyapa. Pada akhirnya aku akan menjalani mimpi yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari harapan seorang manusia pada Tuhannya. “Terima kasih Tuhan”, kalimat yang selalu aku ucapkan saat ini. Dan kau tahu, aku bahkan tidak pernah berhenti mengucapkannya, bahkan waktu pertama kali pesawatku lepas landas dari Makassar hingga landing di bandara Internasional Matsuyama Jepang.
Rasa takut masih tersisa banyak ketika aku tiba di Jepang waktu itu akibat turbulensi yang terjadi pada pesawat sesaat sebelum mendarat. Tetapi sama sekali tidak menghalangi semangatku untuk segera melewati serangkaian proses administratif dan menginjakkan kaki di daratan Jepang yang sesungguhnya.
“Selamat datang di Jepang”, ucap salah satu petugas bandara dengan terbata-bata yang terdengar aneh karena mungkin dipengaruhi oleh aksen bahasa jepang. Aku tersenyum membalas ucapan lelaki bermata sipit yang terlihat sangat ramah itu. Sejenak rasa lelah ini terobati dengan ramahnya petugas bandara yang melayani kami. Setiap petugas terlihat sangat bersemangat melayani kami dan kelihatannya sangat tahu kalau kami dari Indonesia. Setelah mendapatkan paspor dan barang-barang kami kembali, kami segera bergegas keluar.
![]() |
Foto bersama di bandara Matsuyama sebelum berangkat menuju
asrama
|
Diluar kami telah ditunggu oleh beberapa sensei dan mahasiswa yang akan membantu kami selama disini. Setelah mendapatkan ucapan selamat datang dan beberapa arahan mengenai bus dan asrama yang akan kami tinggali, kamipun berangkat bersama-sama.
***
Apa yang kalian tahu tentang Jepang ??
Bersih, rapi, teratur, bikers, anime, manga, kartun, mata sipit, mungkin itu adalah sebagian besar jawaban kita ketika ditanya apa yang kita ketahui tentang Jepang. Dan seperti itulah kondisi yang terlihat sepanjang jalan menuju asaramaku sore itu.
Perjalanan menuju asrama membutuhkan waktu sekitar 2 jam dan walaupun mata ini sangat lelah tetapi tidak rela rasanya mengisinkannya untuk tertidur dan melewatkan moment untuk melihat situasi kota Jepang untuk pertama kalinya.
Tenang adalah kata yang pantas untuk menggambarkan kota Matsuyama kala itu, mungkin keberadaannya yang cukup jauh dari kota besar seperti Tokyo dan Osaka menjadi alasan mengapa kota ini terlihat tidak begitu sibuk oleh aktivitas manusia. Di sini masih terlihat rumah-rumah, supermaket, bengkel, gedung-gedung besar yang bersandingan langsung dengan petak-petak sawah berukuran kecil.
Rumah jepang, jalan, sepeda,
kereta api.
|
Sepanjang jalan aku bisa melihat deretan rumah-rumah khas Jepang yang terbuat dari beton-beton besar, dari yang ku tahu ciri khas hal ini untuk menghindari serangan thypon yang sering menyerang Jepang.
Toko-toko yang bertuliskan hiragana ataupun katakana, para pengendaraa sepeda berlalu lalang di tracknya sendiri, puluhan sepeda terparkir di depan tempat-tempat umum, kereta api tepat di samping busku, ataupun seorang nenek yang sedang lari sore bersama anjing peliaraannya, mataku bebas memandang ke arah manapun yang kumau.
“Kondisi jalan di sini sangat nyaman”bersitku dalam hati.
Sepanjang jalan aku bisa melihat semuanya dari segala sisi karena luasnya jalan yang tidak sebanding dengan volume kendaraan yang bisa dihitung jari untuk bahkan setiap kali pemberhentian lampu merah, tidak ada traffic jam ataupun lomba balapan mobil, bahkan aku tidak pernah mendengar bunyi clackson dan derungan kendaraan lain sepanjang perjalananku.
Sepanjang jalan aku bisa melihat semuanya dari segala sisi karena luasnya jalan yang tidak sebanding dengan volume kendaraan yang bisa dihitung jari untuk bahkan setiap kali pemberhentian lampu merah, tidak ada traffic jam ataupun lomba balapan mobil, bahkan aku tidak pernah mendengar bunyi clackson dan derungan kendaraan lain sepanjang perjalananku.
Ada hal yang menarik perhatianku sore itu, sebagian besar kendaraan hanya didominasi mobil-mobil kecil untuk 4 orang penumpang dan motor bebek yang terlihat sangat lambat berjalan dan hanya dapat dikendarai satu orang. Aku diberitahu batas kecepatan untuk sepeda motor hanya 60 km/jam.
Aku sejenak tidak percaya ketika diberitahu itu dan bertanya apakah mereka tidak pernah terlambat dengan laju kendaraan sebatas itu. Dan tentu jawabannya tidak, sungguh mengagumkan. Hal kecil seperti inilah yang kemudian dapat melatih mereka untuk memperhitungkan waktu dengan sebaik mungkin agar tidak perlu balapan diujung waktu.
***
Waktu makan hanya berlangsung dari pukul dari pukul 07.30 hingga 08.30 di kantin, terlambat sama saja melewatkan sarapan pagi karena kantin akan ditutup tepat pada pukul 08.30 sama halnya untuk jam makan siang dan malam kantin akan dibuka dan ditutup sesuai dengan jadwal setiap harinya.
“Ohayyo gozaimasu”
“Ohayyo gozaimasu”
“Ohayyo gozaimasu”
Di kantin suara gemuruh manusia yang mengucapkan selamat pagi terdengar beradu dengan suara sibuknya panci-panci bergesekan didapur dan semua orang terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Kantin di Ozu menggunakan sistem prasmanan sehingga aku dapat memilih menu makanan apapun yang aku mau. Tetapi untuk mengambil jalan tengah agar bisa makan dengan nyaman tanpa perlu merasa khawatir akan rasa dan halal haramnya makanan, biasanya aku lebih memilih mengambil roti dan segelas susu dingin untuk sarapan.
Tetapi kami tidak perlu merasa khawatir ketika akan makan karena dengan sigap akan ada mahasiswa Jepang yang akan memberitau boleh atau tidaknya kami makan setiap menu yang tersedia. Mereka telah diberitau sebelumnya oleh sensei bahwa mereka wajib mendampingi setiap mahasiswa muslim Indonesia ketika akan makan karena ada makanan yang tidak dapat kami makan.
Dan jadilah kami vegetarian selama di sini karena untuk daging ayam pun kami tidak boleh memakannya karena tidak dibacakan doa kata teman Jepangku yang ditunjukkan dengan bahasa isyarat, sungguh lucu saat mereka mempraktikan gaya ayam yang tidak dibacakan doa sebelum dipotong.
Sebelum dan setelah makan biasanya kita habiskan sambil bercerita mengenai kegiatan pagi ini ataupun bertukar pikiran mengenai budaya di negera kami masing-masing. Salah satu yang menarik adalah kebiasaan orang Jepang yang selalu menghabiskan makanannya hingga tidak tersisa walau untuk sebutir nasi. Mereka sangat menghargai hasil pertanian dan ada kepercayaan cerita mengenai ada dewa di setiap hasil pertanian seperti beras menjadi cerita lucu yang diceritakan temanku.
***




0 komentar:
Posting Komentar