![]() |
Menurutku menjadi seorang pemaaf akan dua kali lebih hebat daripada menjadi seorang petarung. Petarung hanya membutuhkan keberanian mengalahkan lawan, sebaliknya seorang pemaaf membutuhkan keberanian mengalahkan lawan dengan terlebih dahulu mengalahkan dirinya sendiri.
Seorang petarung akan selalu berfikir
bagaimana cara mengalahkan lawannya dengan cara apapun, bertindak berani,
penyelesaian masalah hanya dengan beradu, hanya itu yang dikepalanya karena
seorang petarung selalu memiliki ego yang tinggi harga diri selangit.
Sebaliknya, seorang yang memiliki watak pemaaf memiliki jiwa yang lebih tenang
selalu berfikir bagaimana cara agar masalah tidak berujung pada suatu masalah
yang besar.
Dan menurutku kenapa negeri ini
dipenuhi konflik-konflik yang tidak berujung, salah satunya karena lebih banyaknya
jiwa “petarung dari pada pemaaf”. Semuanya sibuk membesarkan masalah yang ada,
sibuk menjatuhkan lawannya, sibuk membangun citra kalau mereka yang benar.
Padahal menurutku, semua masalah yang menimpa kita pastilah kita turut andil
menjadi penyebabnya baik disengaja maupun tidak disengaja.
“ Tidak ada masalah yang besar
kecuali manusia yang membesarkannya “
--- HITAM PUTIH ---
Petarung dan pemaaf, seorang petarung
belum tentu dapat menjadi seorang pemaaf dan sebaliknya seorang pemaaf adalah
petarung sejati. Mengalahkan diri sendiri, melawan ego kalau kita benar dan
pasti benar akan sangat sulit, memiliki fikiran kalau kita ini salah pasti
memiliki kesalahan sehingga menyebabkan terjadinya suatu masalah akan sangat
mengesankan. Bayangkan kalau negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang berjiwa
lapang yang sibuk memperbaiki hati, memperbaiki sikap, memperbaiki silaturahim
dengan meminta maaf terlebih dahulu bagaimana mungkin Allah akan membuka aibnya
jika dia pun terlalu takut meladeni orang yang ingin membuka aibnya.
“ Allah akan menutup aib kita jika
kita menutup aib orang lain dengan baik “
“ Orang-orang yang ingin bertarung
denganmu sebenarnya dia ingin membuka aibnya sendiri, jadi biarkanlah jangan
pernah meladeni orang yang BODOH “
--- AD ---
Dan satu-satunya pertarungan menurutku
adalah perang, Nabi Muhammad sendiri
yang menjadi contohnya jiwa pemaaf tidak pernah akan dikalahkan, bagaimana
sabarnya dia ketika di lempari kotoran oleh nene-nenek yang tidak menyukainya,
ketika diusir dari kota Mekkah, dicemooh oleh orang-orang, dalam sejarah yang diajarkan tidak satu kali
pun beliau berhenti kemudian beradu argumen dengan orang yang menggangunya tapi
beliau langsung memaafkannya satu-satunya pertarungan yang beliau jalankan dalah
perang.
29 Desember
2013
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar