![]() |
Semalam, debat caleg disalah satu
stasiun televisi mengangkat tema yang menarik “Pluralisme”. Selain negara
agraris, negara khatulitiwa, paru-paru dunia, bukan rahasia lagi kalau
Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagamannnya. Keberagaman yang
membuat iri semua mata memandang karena keberagaman inilah mereka bersatu tidak
terpecah belah seperti negara lain pada umumnya.
Ada fakta menarik yang menyeruak,
salah satu dari caleg tersebut dengan raut muka menggebu-gebu mengatakan
“dinegara yang mayoritas islam ini pertumbuhan pembangunan gereja lebih tinggi
dibandingkan pertumbuhan masjid dalam kurung waktu yang sama”.
Fakta ini sama sekali tidak membuat
ku merasa sedih hanya merasa cukup malu. Mendengar pertumbuhan tempat ibadah
yang tinggi di negeri ini membuat ku bahagia, bukankah hal ini dengan pasti
dapat menunjukkan di negri ini beribadah masihlah menjadi kegiatan yang sangat
penting. Tetapi disisi lain sebagai ummat muslim, aku juga cukup merasa malu.
Dinegri yang jumlah ummat muslimnya lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
penduduk islam arab jika dikumpulkan, kita masih tertinggal dalam partumbuhan
pembangunan rumah ibadah.
Fakta ketertinggalan ini harusnya
membuat kita merasa sangat malu, dan berpikir bagaimana cara memperbaikinya
atau bekerja untuk memperbaiki kondisi ini. Saya kira pluralitas sebenarnya
ketika kita dapat tumbuh dan berkembang bersama dengan rasa saling menghormati,
menghargai, untuk mewujudkan negara yang aman dan damai untuk beribadah, jika
dalam hal sensitif seperti beribadah kita sudah dapat menyikapi dengan baik
bukan tidak mungkin permasalahan lain negeri ini lambat laun juga dapat
teratasi.
Lagipula rasa aman dan damai bukan
datang dari rumah ibadah dari agama apa
yang lebih banyak atau yang lebih sedikit, rasa aman tidak datang dari seberapa banyaknya tetapi dari seberapa
besar rasa saling mengerti antara ummat yang beribadah didalam rumah ibadah
tersebut.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar