Foto bersama di
Jembatan Yasuda
Hari itu tanggal
23 Agustus 2014, sekitar jam 10 pagi kami tiba di Yasuda. Yasuda adalah tujuan
awal dari seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang akan kami
laksanakan selama disini. Yasuda adalah salah satu site atau lokasi dalam program SUIJI kali ini dan merupakan site baru untuk pertama kalinya tahun
ini. Site kita sendiri telah
ditentukan jauh sebelum keberangkatan kami ke Jepang. Yasuda site beranggotakan
7 mahasiswa Jepang dan 4 mahasiswa Indonesia dimana 1 IPB, 1 UGM, dan 2 mahasiswa UNHAS dan salah satunya saya tentunya.
Surga, itu kata
paling tepat untuk mengambarkan suasana kota Yasuda ketika pertama kali aku menginjakkan
kaki pagi itu. “Indah sekali” aku tidak tahu kata apalagi yang dapat
menggambarkan perasaanku waktu itu. Bayanganku langsung mengarah pada flm-flm
romantis yang mengambill setting
dialam terbuka, gunung-gunung tinggi, gubuk-gubuk kecil yang terbuat dari
kayu-kayu kokoh, jembatan panjang dan yang paling penting adalah perasaan damai
yang dapat langsung kita rasakan ketika berada disana. Bagaimana tidak, alam
terbuka yang hijau serta sungai tepat berada dibawah jembatan panjang terdengar
sangat ribut mengalahkan derungan mesin kendaraan bermotor yang hanya sesekali
lewat. It’s wonderfull !!
***
Kegiatan Membersihkan
Camp
Selama dua hari
satu malam kami akan berada disini, kegiatan pertama kami yaitu membantu pemilik
camp untuk membersihkan bangku dan
meja taman serta pohon tumbang yang tergelatak dimana-mana sebagai tanda
besarnya kekuatan angin thypoon yang menyerang Yasuda beberapa waktu lalu.
Bencana angin ini adalah hal biasa yang terjadi di Jepang tetapi tahun ini adalah
bencana terparah dari beberapa tahun belakangan yang terjadi di Yasuda.
Camp
yang kami tempati sebenarnya adalah sebuah penginapan untuk para wisatawan, tetapi
karena bencana tersebut tempat ini menjadi sepi dan tidak didatangi oleh para
wisatawan. Anak sang pengelola tempat wisata ini bercerita bahwa biasanya
mereka dapat memperoleh penghasilan yang cukup tinggi jika musim panas tiba
karena banyaknya wisatawan yang datang untuk menghabiskan liburan musim panas sambil
memancing ikan ayu disungai, ikan khas yang terdapat di Yasuda.
***
Keesokan siangnya
kami berangkat menuju Ogawa. Desa Ogawa adalah sebuah desa kecil bagian dari
Yasuda Perfecture. Jaraknya tidak terlalu jauh, kita hanya perlu menempuh
perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai ke desa ini. Desa ini terlihat sepi,
hanya sesekali kendaraan melintas dan terlihat hanya dikendarai oleh orang yang
sudah pantas kita panggil nenek, fikirku.
Sekitar jam 3
sore kami tiba ditempat penginapan kami selama disini, nama asaramanya itu Seseragi No Sato. Sepintas tidak ada
yang menarik dari asrama ini tetapi setelah mendengar kisahnya dari Kepala Desa
sungguh hati ini cukup miris jika kisah tersebut berlangsung di kampung halaman
kita sendiri.
Tempat ini
dulunya adalah sekolah dasar di Ogawa, tetapi sejak 20 tahun lalu sudah ditutup
dan alihfungsikan menjadi tempat pusat seluruh kegiatan pennduduk desa serta
tempat menginap bagi wisatawan. Sekolah ini ditutup setelah menghasilkan
setidaknya 800 alumni dari berbagai generasi. Sekolah ini ditutup karena
penurunan tingkat populasi manusia yang cukup drastis terjadi di desa ini,
bayangkan saja sekitar 20 tahun lalu penduduk desa sekitar 150 orang tetapi
sekarang hanya tersisa 30 orang. Kata kepala desa, hal ini disebabkan oleh
penduduk desa yang pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan tidak ada yang
kembali, biasanya mereka akan melanjutkan untuk mencari pekerjaan lalu kemudian
menikah sehingga tidak punya alasan lagi untuk kembali ke Ogawa.
Sebagian besar
dari penduduk desa disini memilik kembali ke Ogawa dengan alasan utama untuk
menghabiskan masa tua yang tenang ditempat dimana mereka dilahirkan sehingga
tidak perlu membebani anak mereka yang tinggal dikita. Sudah menjadi rahasia
umum kalau tabiat orang Jepang adalah orang-orang dengan sikap yang suka
bekerja dan sangat mandiri, sehingga sudah menjadi budaya turun-temurun saat
kita meninggalkan orang tua untuk mencari kehidupan kita sendiri.
Tetapi ada dua
pemuda disini yang memiliki pemikiran berbeda, aku lupa siapa namanya dari yang
kudengar mereka memilih untuk bekerja di desa Ogawa dibandingkan di kota karena
mereka sangat mencintai desa yang telah melahirkannya, katanya. Mereka bertekad
untuk mengembangkan desa Ogawa sebaik yang mereka bisa. Mereka adalah mediator
antara orang luar dengan penduduk desa setempat, misalnya ketika pemerintah
yang ingin membuat sebuah kebijakak maka mereka yang akan memberitahukan kepada
penduduk setempat termasuk salah satunya membantu kami selama kegiatan SUIJI
disini.
Kondisi Sekitar Seseragi No Sato
Ogawa, desa ini
akan membuat semua orang jatuh cinta at
first sight apalagi untuk mereka-mereka yang tidak suka kebisingan. Indahnya
itu rasanya damai saja, ketika bangun dipagi hari dan terlelap dimalam hari.
Sepanjang waktu kita hanya mendengar bisingnya air sungai yang berada tepat
didepan asrama, rasanya oke-oke saja ketika tidak mendengar adzan ketika waktu
subuh telah tiba karena derasnya air sungai dengan baiknya akan menyentakkan
kita untuk terbangun menjalankan salah subuh bersama-sama.
Hari pertama di
Ogawa kami berencana untuk menghabiskan waktu bersama-sama dan mencari
informasi sebanyak-banyaknya dari penduduk desa mengenai kondisi aktual dari
desa ini, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa penyebanya menurut
pendapat mereka masing-masing. Inti dari kegiatan kami disini adalah belajar
dari penduduk desa (Local Knowledge).
***
Sore harinya
ditemani oleh Akaike Sensei dan
seorang pemuda penduduk desa, kami berjalan menyusuri setapak demi setapak
jalan didesa ini. Secara umum tidak ada yang berbeda dengan pemandangan desa
pada umumnya, rumah, sawah, dan kebun terlihat tertata rapi disepanjang jalan.
Tetapi jika diperhatikan baik-baik sebagian besar rumah yang kami lewati
terlihat tidak berpenghuni, sepi dan biasanya hanya ada anjing peliharaan yang
terlihat sedang menjalankan tugas untuk menjaga rumah majikannya. Kondisi yang
sama juga terjadi pada sawah dan kebun yang terlihat tadi karena jika semakin
diperhatikan disamping lahan kebun dan sawah yang terlihat subur sering pula dijumpai lahan tidak
terurus, semak belukar seakan dizinkan
tumbuh subur mengalahkan tingginya tanaman utama.
Sensei
bercerita kalau sebagian rumah yang kami lewati tadi sebagian besar hanya
ditinggali satu atau dua orang penduduk desa, biasanya sepasangan kakek nenek
dan alan hanya tinggal kakek saja kalau istri mereka meninggal terlebih dahulu.
Dan sekarang semakin terlihat sepi karena sekarang masih sekitar jam 4 sore,
belum waktunya mereka pulang dari bertani karena biasanya dihari senin-jumat
mereka akan bekerja dari jam 7 hingga sore hari sekitar pukul 5 sore kecuali
sabtu minggu mereka biasanya akan menghabiskan liburan dengan keluar desa untuk
memancing ataupun mencari hiburan lainnya.
Berbeda cerita
kalau lahan-lahan yang tidak terurus yang kami lihat tadi , biasanya hal ini disebabkan
oleh sang pemilik yang mungkin telah pindah ataupun sedang sakit. Seperti salah
satu lahan yang kami lihat dipersimpangan jalan, kata kakak yang menemani kami
sang pemilik lahan ini sedang sakit dan sekarang ada di rumah sakit dari
beberapa minggu yang lalu.
Sepanjang jalan
kami bercerita dan berdiskusi banyak hal, fikiranku melayang membandingkan
kondisi disini dan kampungku yang jauh disana. Bayangkan saja kalau ini terjadi
didesa kita di Indonesia, aku kira sudah pasti kita dicap sebagai anak durhaka karena
meninggalkan orang tua kita hidup sendiri. Lagi pula mungkin sebagian besar
dari kita tidak akan pernah berfikir untuk meninggalkan orang tua kita sendiri
dirumah, sebagian teman kampusku saja selalu berfikir pulang kampung setiap ada
2 atau 3 hari libur yang berturut-turut hanya dengan alasan rindu dengan
kampung mereka.
Aku menceritakan
hal ini kepada sensei dan beliau terlihat sedikit terperangah mendengar kondisi
desa di Indonesia. Dia sungguh kagum karena hubungan antara orang tua dan anak
masih seerat itu walaupun mereka sudah dewasa, hal yang indah katanya.
***
Hari ini adalah
hari kedua kami berada di Ogawa, schedule
utama kami hari ini adalah “Experience
Farmer Life” . Hari ini kami akan belajar cara untuk memetik okura bersama
bapak Yokota San. Okura adalah salah satu jenis sayuran berwarna hijau yang
terlihat menyerupai ukuran belimbing panjang, aku kira awalnya okura adalah salah
satu jenis buah, hahaha.
Okura,
selesai menanam
Subuh harinya
setelah solat subuh sekitar pukul 5 pagi, saya dan ketiga teman site ku
berangkat bersama menuju kebun Okura, dibutuhkan sekitar 30 menit berjalan kaki
hingga dapat sampai disana. Kami tiba
sekitar pukul setengah 6 pagi, kabut, embun dan huran masih setia mendampingi.
Sesampainya
disana kami bersama Yokota san dan istri kami diberi pengarahan singkat
mengenai bagaimana cara memanen okura. Masing-masing dari kami diberi stick
kayu yang berukuran 5 cm yang akan dijadikan patokan ukuran, okura yang
memiliki panjang lebih dari stick kayu diperbolehkan untuk dipanen dengan
menggunakan gunting sayuran. Setelah dipetik kemudian okura dikumpulkan pada
sebuah box yang kemudian disortir kembali oleh bapak Yokota san. Okura yang
tidak memenuhi syarat akan dipisah dan dapat kami bawa pulang.
Kebut Yuzu
Yuzu adalah
hasil pertanian utama desa Ogawa selain Okura. Yuzu lebih familiar kita kenal
dengan nama jeruk citrus.
Berpetak-petak kebun citrus sangat
mudah dijumpai disini. Sebagian besar petani yuzu dan okura disini menjualnya
kepada perusahaan dibandingkan menjualnya langsung di pasar karena hal ini akan
memudahkan mereka, lagipula salah satu cabang anak perusahaan tersebut ada yang
beroprasi didesa ini tepat didepan asarama kami. Perusahaan tersebut akan
mengolah citrus menjadi berbagai
jenis produk makanan dan minuman nantinya.
Perusahaan ini
menerima yuzu dan okura untuk diolah kembali menjadi berbagai jenis produk
makanan. Tetapi hal yang biasa menjadi kendala adalah adanya persyaratan bahan
baku yang diterima oleh perusahaan ini sehingga tidak jarang petani hanya dapat
menjual sebagian dari hasil panen pertanian mereka.
Hasil dari
bersawah juga memiliki andil yang besar bagi petani di desa Ogawa. Kondisi
iklim yang bagus serta peralatan sawah yang modern sangat mendukung melimpahnya
beras yang akan dipanen dengan harga yang cukup tinggi tentunya. Hanya saja
petani tidak dapat sepanjang tahun menjadikan lahannya sebagai lahan persawahan
karena akan mengundang datangnya hama serangga yang akan menyerang padi petani
sehingga biasanya setelah ditanamai padi biasanya pada musim panen berikutnya
diganti tanaman utamanya menjadi Okura.
***
Malam harinya
kami mengatakan pesta penyambutan bersama semua penduduk desa. Pesta dimulai
sekitar pukul 7 malam, tetapi persiapan sudah dilakukan dari sore hari. Aku
rasa semua nenek perempuan didesa ini berkumpul disini sore harinya dan
mengeluarkan jurus memasak paling hebat yang mereka miliki. Kami hanya bisa memperhatikan
tingkah mereka yang sangat lincah bergerak kesana kemari sambil sesekali
mengangguk atapun mengatakan “ hai’ hai’ “ ketika terlihat isyarat kalau mereka
sedang menceritakan sesuatu kepada kami.
Meja oke,
makanan siap, saatnya untuk menyusun rapi semuanya diatas meja. Semua makanan
terlihat enak dan yang paling menarik adalah salah satu menu makanan diolah
dari okura yang kami petik pagi hari tadi, rasanya menyenangkan sekali
melihatnya. Banyak makanan yang tersedia diatas meja tapi hanya tempura yang
akan menjadi sasaranku, rasa-rasanya. Bukan karena makanan yang lain tidak enak
hanya saja makanan Jepang yang pada dasarnya tidak memiliki rasa rempah-rempah membuat
lidahku masih belum terbiasa memakannya.
Setelah membantu
temanku uttuk menyiapkan segala sesuatu untuk pesta malam ini saatnya giliranku
dan satu teman Jepangku mempersiapkan diri karenna kami ditunjuk untuk mewakili
mahsaiswa Indonesia untuk memberi penyambutan malam ini.
***
Latihan, Tampil
didepan penduduk desa
Hajimemasite,
Watashi
no namaewa adhe siska desu
Adhe
yonde kudasai
Indonesia
kara kimashita
Tempura
o tabetai desu
Aku hanya perlu mengucakan lima kalimat diatas
tetapi membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mempersiapkannya, bukan karena
takut ataupun ‘grogi’ tetapi karena tidak ada teman siteku yang percaya kalau
aku akan melakukannya dengan baik. Mereka cukup shock ketika aku mengangkat tanganku untuk mengajukan diri
mengerjakan tugas ini dan menunjuk teman Jepangku sendiri yang nantinya menjadi
partner kerjaku malam ini. Aku sudah menduga reaksi mereka karena biasanya aku
lebih banyak menghabiskan waktu mendengarkan mereka berdiskusi dan mengacaukan
pekerjaan yang sedang serius mereka kerjakan.
Aku juga masih ingat perdebatan kami mengenai
kalimat terakhir, sebenarnya naskah awalnya adalah “okura o tabetai desu” yang
artinya saya ingin makan okura dan kalimat ini telah dilatihankan bersama.
Latihan hal ini berjalan lancar pada awalnya hingga pada akhirnya saya mengerti
arti maknanya dan mengatakan saya tidak menyukai okura hanya tempura. Dan akhirnya
tawa kami meledak semuanya, dan buru-buru mengganti teksnya menjadi ‘Tempura o
tabetai desu’.
Kadang-kadang aku tidak mengerti kenapa kami bisa
tertawa terbahak-bahak ketika berbincang bersama-sama karena sejujurnya tidak
ada satupun dari kami yang berkomunikasi dengan lancar. Pada akhirnya kami
harus mengucap satu atau dua patah kata bahasa inggris ketika menjelaskan
sesuatu dengan sangat perlahan, menggunakan gerakan tubuh yang aneh dengan
tujuan agar mereka mengerti ataupun tidak jarang dari kami yang menyerah saja
untuk menjelaskan sesuatu ketika kamus pun tidak bisa menjelaskan maksud dari perkataan
kami yang sebenarnya.
“Perbedaan membuat kita semakin
kaya” kalimat ini adalah kalimat klise yang sudah pasti sering kita dengar
diucapkan oleh orang bijak diluar sana tetapi sangat kuyakini kebenarannya
sekarang. Pada dasarnya karena kami memiliki perbedaan yang sangat banyak maka
kami selalu memiliki sudut pandang yang berbeda ketika melihat sesuatu tetapi
tanpa kita sadari membuat kami bisa berdiskusi panjangg dan hebat, belajar
saling mendengarkan, dan yang akan selalu keren
saat kita bisa mencari jalan tengah dari dua pendapat yang berbeda.
***
Suasana
Pesta
Satu persatu penduduk desa berdatangan, mereka
saling menyapa kemudian duduk dikursi yang telah kami sediakan. Setelah memberi
sambutan dan menerima tepuk tangan yang meriah dari para penduduk desa saatnya memulai
pesta.
“Kanpai !!!”
Suara gemuruh orang-orang mengucapkan selamat minum
dan dentingan gelas yang saling bertubrukan menjadi pertanda meriahnya pesta
malam ini. Semua orang terlihat bahagia tidak terkecuali kami yang sangat
merasa senang bisa menjadi salah satu alasan mereka untuk bahagia malam ini.
Para pemuda terlihat menuangkan bir ke gelas sang kakek
sambil membungkukkan badan, nenek-nenek yang cantik tadi terlihat cekikikan
membahas makanan yang mereka masak sambil tidak henti-hentinya menyuruh kami
menghabiskan semuanya, teman-teman indonesia terlihat hanya mengangguk dan
sesekali tertawa setelah dibisikkan seseatu oleh teman Jepangku, termasuk bapak
kepala desa yang terlihat sangat tampan dan cool
malam ini walaupun beliau sudah sangat tua tetapi badannya yang tegak dan
senyumnya yang manis sudah dapat memastikanku kalau beliau pasati sangat tampan
ketika muda dulu, dan yang paling penting semua orang diruangan ini bahagia.
Disela-sela pesta kami menyempatkan diri untuk
mencari informasi sebanyak-banyaknya dari penduduk desa dan kali ini aku
berkesempatan bertanya kepada kepala desa yang tepat berada disampingku. Beliau
bercerita banyak hal termasuk diantaranya kebahagiaannya dan teman-temannya
tinggal di Ogawa, desa yang melahirkan
mereka.
***
Bapak kepala desa adalah seorang pensiunan pegawai
pemerintahan dan lebih memilih kembali kesini untuk menghabiskan masa tuanya.
Beliau sendiri memiliki dua anak seingatku, satu berada di Amerika dan satunya
lagi tinggal di salah satu kota di Jepang. Aku bertanya kenapa beliau tidak
tinggal dengan anaknya dan dengan senyumnya yang tampan dan kharismatik itu,
beliau mulai bercerita panjang.
Sebagian besar penduduk desa disini lebih memilih
kembali setelah tua dibandingkan tinggal dengan anaknya karena kondisi desa
Ogawa yang merupakan kampung mereka sendiri jauh lebih menenangkan dibandingkan
tinggal dengan anak mereka dikota besar yang bising. Selain itu, mereka merasa
tidak enak hati jika harus merepotkan anak mereka, mungkin karena kepribadian
mereka yang mandiri. Rata-rata dari mereka bisanya saling berkomunikasi 2-3
kali dalam seminggu dan mendapat kunjungan dihari libur weekend dan hari raya besar.
Beliau pada dasarnya merasa khawatir dengan
kelangsungan desa ini karena jumlah penduduk yang semakin sedikit. Beliau
khawatir mengenai siapa yang akan menlanjutkan pengelolaan sumber daya yang
alam yang masih sangat banyak disini. Tetapi mau diapakan lagi atas keadaan
yang telah terjadi saat ini. Sungguh beliau mersa senang kami mau datang kesini
menghibur mereka dan beliau juga berharap hal ini kemudian dapat menajadi awal
datangnya kembali turis-turis untuk meramaikan desa ini kembali seperti dulu.
***
Setiap malamnya sebelum tidur kami
diwajibkan untuk menuliskan kesan kami tentang kegiatan hari ini dan
mendiskusikan semua informasi yang telah kami dapatkan. Biasanya kami akan
menuliska semua kesan pada sticky note dan ditempelkan pada karton yang
berukuran besar dan setelah itu semua orang dapat menanyakan setiap kata yang ditulis kepada penulisnya.
Awalnya aku tidak mengerti apa tujuan dari kebiasaan
ini tetapi tanpa disadari hal ini kemudia membuat kami mudah dalam berdiskusi
karena poin utama ditulis dengan satu
kata sederhana tetapi setelah dijelaskan biasanya punya cerita yang
sangat panjang dari masing-masing pemilik kata. Biasanya dengan mudah kita akan
mengerti maksudnya dan kemudian membandingkan dengan cerita yang kami miliki.
Setelah bercerita banyak, kami akan menuliskan
poin-poin utama yang kami dapatkan hari ini. Berdiskusi, berbagi ide, mencari
permasalahan, penyebab dan penyelesaiannya. Hal ini berlangsung setiap harinya
rata-rata 2-3 jam setelah makan malam. Setelah berdiskusi barulah kami mandi,
mencuci pakaian, ataupun tidur. Salah satu kebiasaan orang Jepang yang sangat
menarik adalah kebiasaan mereka yang tidak suka mandi pagi dan sikat gigi
dimanapun dan kapanpun.
Selain itu tingkat kejujuran yang sangat dimiliki
masyarakat Jepang dicontohkan dengan ketidak khawatiran kami meletakkan
barang-barang berharaga milik kami dimanapun. Bahkan tidak jarang ketika aku
bangun pagi mendapati pintu asrama kami terbuka lebar yang pada dasarnya memang
tidak pernah dikunci.
***
















0 komentar:
Posting Komentar