Minggu, 02 Agustus 2015

Dream Comes True #3


Foto bersama di Jembatan Yasuda

Hari itu tanggal 23 Agustus 2014, sekitar jam 10 pagi kami tiba di Yasuda. Yasuda adalah tujuan awal dari seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang akan kami laksanakan selama disini. Yasuda adalah salah satu site atau lokasi dalam program SUIJI kali ini dan merupakan site baru untuk pertama kalinya tahun ini. Site kita sendiri telah ditentukan jauh sebelum keberangkatan kami ke Jepang. Yasuda site beranggotakan 7 mahasiswa Jepang dan 4 mahasiswa Indonesia dimana 1 IPB,  1 UGM, dan 2 mahasiswa UNHAS  dan salah satunya saya tentunya.
Surga, itu kata paling tepat untuk mengambarkan suasana kota Yasuda ketika pertama kali aku menginjakkan kaki pagi itu. “Indah sekali” aku tidak tahu kata apalagi yang dapat menggambarkan perasaanku waktu itu. Bayanganku langsung mengarah pada flm-flm romantis yang mengambill setting dialam terbuka, gunung-gunung tinggi, gubuk-gubuk kecil yang terbuat dari kayu-kayu kokoh, jembatan panjang dan yang paling penting adalah perasaan damai yang dapat langsung kita rasakan ketika berada disana. Bagaimana tidak, alam terbuka yang hijau serta sungai tepat berada dibawah jembatan panjang terdengar sangat ribut mengalahkan derungan mesin kendaraan bermotor yang hanya sesekali lewat. It’s wonderfull !!
***

Kegiatan Membersihkan Camp

Selama dua hari satu malam kami akan berada disini, kegiatan pertama kami yaitu membantu pemilik camp untuk membersihkan bangku dan meja taman serta pohon tumbang yang tergelatak dimana-mana sebagai tanda besarnya kekuatan angin thypoon yang menyerang Yasuda beberapa waktu lalu. Bencana angin ini adalah hal biasa yang terjadi di Jepang tetapi tahun ini adalah bencana terparah dari beberapa tahun belakangan yang terjadi di Yasuda.
Camp yang kami tempati sebenarnya adalah sebuah penginapan untuk para wisatawan, tetapi karena bencana tersebut tempat ini menjadi sepi dan tidak didatangi oleh para wisatawan. Anak sang pengelola tempat wisata ini bercerita bahwa biasanya mereka dapat memperoleh penghasilan yang cukup tinggi jika musim panas tiba karena banyaknya wisatawan yang datang untuk menghabiskan liburan musim panas sambil memancing ikan ayu disungai, ikan khas yang terdapat di Yasuda.
***
Keesokan siangnya kami berangkat menuju Ogawa. Desa Ogawa adalah sebuah desa kecil bagian dari Yasuda Perfecture. Jaraknya tidak terlalu jauh, kita hanya perlu menempuh perjalanan sekitar 15 menit untuk sampai ke desa ini. Desa ini terlihat sepi, hanya sesekali kendaraan melintas dan terlihat hanya dikendarai oleh orang yang sudah pantas kita panggil nenek, fikirku.
Sekitar jam 3 sore kami tiba ditempat penginapan kami selama disini, nama asaramanya itu Seseragi No Sato. Sepintas tidak ada yang menarik dari asrama ini tetapi setelah mendengar kisahnya dari Kepala Desa sungguh hati ini cukup miris jika kisah tersebut berlangsung di kampung halaman kita sendiri.








Seseragi No Sato
Tempat ini dulunya adalah sekolah dasar di Ogawa, tetapi sejak 20 tahun lalu sudah ditutup dan alihfungsikan menjadi tempat pusat seluruh kegiatan pennduduk desa serta tempat menginap bagi wisatawan. Sekolah ini ditutup setelah menghasilkan setidaknya 800 alumni dari berbagai generasi. Sekolah ini ditutup karena penurunan tingkat populasi manusia yang cukup drastis terjadi di desa ini, bayangkan saja sekitar 20 tahun lalu penduduk desa sekitar 150 orang tetapi sekarang hanya tersisa 30 orang. Kata kepala desa, hal ini disebabkan oleh penduduk desa yang pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan tidak ada yang kembali, biasanya mereka akan melanjutkan untuk mencari pekerjaan lalu kemudian menikah sehingga tidak punya alasan lagi untuk kembali ke Ogawa.
Sebagian besar dari penduduk desa disini memilik kembali ke Ogawa dengan alasan utama untuk menghabiskan masa tua yang tenang ditempat dimana mereka dilahirkan sehingga tidak perlu membebani anak mereka yang tinggal dikita. Sudah menjadi rahasia umum kalau tabiat orang Jepang adalah orang-orang dengan sikap yang suka bekerja dan sangat mandiri, sehingga sudah menjadi budaya turun-temurun saat kita meninggalkan orang tua untuk mencari kehidupan kita sendiri.
Tetapi ada dua pemuda disini yang memiliki pemikiran berbeda, aku lupa siapa namanya dari yang kudengar mereka memilih untuk bekerja di desa Ogawa dibandingkan di kota karena mereka sangat mencintai desa yang telah melahirkannya, katanya. Mereka bertekad untuk mengembangkan desa Ogawa sebaik yang mereka bisa. Mereka adalah mediator antara orang luar dengan penduduk desa setempat, misalnya ketika pemerintah yang ingin membuat sebuah kebijakak maka mereka yang akan memberitahukan kepada penduduk setempat termasuk salah satunya membantu kami selama kegiatan SUIJI disini.
***



Kondisi Sekitar Seseragi No Sato

Ogawa, desa ini akan membuat semua orang jatuh cinta at first sight apalagi untuk mereka-mereka yang tidak suka kebisingan. Indahnya itu rasanya damai saja, ketika bangun dipagi hari dan terlelap dimalam hari. Sepanjang waktu kita hanya mendengar bisingnya air sungai yang berada tepat didepan asrama, rasanya oke-oke saja ketika tidak mendengar adzan ketika waktu subuh telah tiba karena derasnya air sungai dengan baiknya akan menyentakkan kita untuk terbangun menjalankan salah subuh bersama-sama.
Hari pertama di Ogawa kami berencana untuk menghabiskan waktu bersama-sama dan mencari informasi sebanyak-banyaknya dari penduduk desa mengenai kondisi aktual dari desa ini, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa penyebanya menurut pendapat mereka masing-masing. Inti dari kegiatan kami disini adalah belajar dari penduduk desa (Local Knowledge).
***




Kondisi Sekitar Desa
Sore harinya ditemani oleh Akaike Sensei dan seorang pemuda penduduk desa, kami berjalan menyusuri setapak demi setapak jalan didesa ini. Secara umum tidak ada yang berbeda dengan pemandangan desa pada umumnya, rumah, sawah, dan kebun terlihat tertata rapi disepanjang jalan. Tetapi jika diperhatikan baik-baik sebagian besar rumah yang kami lewati terlihat tidak berpenghuni, sepi dan biasanya hanya ada anjing peliharaan yang terlihat sedang menjalankan tugas untuk menjaga rumah majikannya. Kondisi yang sama juga terjadi pada sawah dan kebun yang terlihat tadi karena jika semakin diperhatikan disamping lahan kebun dan sawah yang terlihat subur  sering pula dijumpai lahan tidak terurus,  semak belukar seakan dizinkan tumbuh subur mengalahkan tingginya tanaman utama.
Sensei bercerita kalau sebagian rumah yang kami lewati tadi sebagian besar hanya ditinggali satu atau dua orang penduduk desa, biasanya sepasangan kakek nenek dan alan hanya tinggal kakek saja kalau istri mereka meninggal terlebih dahulu. Dan sekarang semakin terlihat sepi karena sekarang masih sekitar jam 4 sore, belum waktunya mereka pulang dari bertani karena biasanya dihari senin-jumat mereka akan bekerja dari jam 7 hingga sore hari sekitar pukul 5 sore kecuali sabtu minggu mereka biasanya akan menghabiskan liburan dengan keluar desa untuk memancing ataupun mencari hiburan lainnya.
Berbeda cerita kalau lahan-lahan yang tidak terurus yang kami lihat tadi , biasanya hal ini disebabkan oleh sang pemilik yang mungkin telah pindah ataupun sedang sakit. Seperti salah satu lahan yang kami lihat dipersimpangan jalan, kata kakak yang menemani kami sang pemilik lahan ini sedang sakit dan sekarang ada di rumah sakit dari beberapa minggu yang lalu.
Sepanjang jalan kami bercerita dan berdiskusi banyak hal, fikiranku melayang membandingkan kondisi disini dan kampungku yang jauh disana. Bayangkan saja kalau ini terjadi didesa kita di Indonesia, aku kira sudah pasti kita dicap sebagai anak durhaka karena meninggalkan orang tua kita hidup sendiri. Lagi pula mungkin sebagian besar dari kita tidak akan pernah berfikir untuk meninggalkan orang tua kita sendiri dirumah, sebagian teman kampusku saja selalu berfikir pulang kampung setiap ada 2 atau 3 hari libur yang berturut-turut hanya dengan alasan rindu dengan kampung mereka.
Aku menceritakan hal ini kepada sensei dan beliau terlihat sedikit terperangah mendengar kondisi desa di Indonesia. Dia sungguh kagum karena hubungan antara orang tua dan anak masih seerat itu walaupun mereka sudah dewasa, hal yang indah katanya.
***

Hari ini adalah hari kedua kami berada di Ogawa, schedule utama kami hari ini adalah “Experience Farmer Life” . Hari ini kami akan belajar cara untuk memetik okura bersama bapak Yokota San. Okura adalah salah satu jenis sayuran berwarna hijau yang terlihat menyerupai ukuran belimbing panjang, aku kira awalnya okura adalah salah satu jenis buah, hahaha.
Ogawa merupakan salah satu desa penghasil Okura, dibandingkan desa lainnya menanam Okura di Ogawa lebih menguntungkan dibandingkan dengan desa lain. Hal ini dikarenakan lokasi desa ini yang dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi sehingga jika angin thypoon datang maka kebun okura tidak akan mengalami kerusakan yang mengkhawatirkan. Sehingga biasanya jika musim angin tiba petani Okura akan mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.


Okura, selesai menanam

Subuh harinya setelah solat subuh sekitar pukul 5 pagi, saya dan ketiga teman site ku berangkat bersama menuju kebun Okura, dibutuhkan sekitar 30 menit berjalan kaki hingga dapat sampai disana.  Kami tiba sekitar pukul setengah 6 pagi, kabut, embun dan huran masih setia mendampingi.
Sesampainya disana kami bersama Yokota san dan istri kami diberi pengarahan singkat mengenai bagaimana cara memanen okura. Masing-masing dari kami diberi stick kayu yang berukuran 5 cm yang akan dijadikan patokan ukuran, okura yang memiliki panjang lebih dari stick kayu diperbolehkan untuk dipanen dengan menggunakan gunting sayuran. Setelah dipetik kemudian okura dikumpulkan pada sebuah box yang kemudian disortir kembali oleh bapak Yokota san. Okura yang tidak memenuhi syarat akan dipisah dan dapat kami bawa pulang.
***



Kebut Yuzu

Yuzu adalah hasil pertanian utama desa Ogawa selain Okura. Yuzu lebih familiar kita kenal dengan nama jeruk citrus. Berpetak-petak kebun citrus sangat mudah dijumpai disini. Sebagian besar petani yuzu dan okura disini menjualnya kepada perusahaan dibandingkan menjualnya langsung di pasar karena hal ini akan memudahkan mereka, lagipula salah satu cabang anak perusahaan tersebut ada yang beroprasi didesa ini tepat didepan asarama kami. Perusahaan tersebut akan mengolah citrus menjadi berbagai jenis produk makanan dan minuman nantinya.
Perusahaan ini menerima yuzu dan okura untuk diolah kembali menjadi berbagai jenis produk makanan. Tetapi hal yang biasa menjadi kendala adalah adanya persyaratan bahan baku yang diterima oleh perusahaan ini sehingga tidak jarang petani hanya dapat menjual sebagian dari hasil panen pertanian mereka.
Hasil dari bersawah juga memiliki andil yang besar bagi petani di desa Ogawa. Kondisi iklim yang bagus serta peralatan sawah yang modern sangat mendukung melimpahnya beras yang akan dipanen dengan harga yang cukup tinggi tentunya. Hanya saja petani tidak dapat sepanjang tahun menjadikan lahannya sebagai lahan persawahan karena akan mengundang datangnya hama serangga yang akan menyerang padi petani sehingga biasanya setelah ditanamai padi biasanya pada musim panen berikutnya diganti tanaman utamanya menjadi Okura.
***
Malam harinya kami mengatakan pesta penyambutan bersama semua penduduk desa. Pesta dimulai sekitar pukul 7 malam, tetapi persiapan sudah dilakukan dari sore hari. Aku rasa semua nenek perempuan didesa ini berkumpul disini sore harinya dan mengeluarkan jurus memasak paling hebat yang mereka miliki. Kami hanya bisa memperhatikan tingkah mereka yang sangat lincah bergerak kesana kemari sambil sesekali mengangguk atapun mengatakan “ hai’ hai’ “ ketika terlihat isyarat kalau mereka sedang menceritakan sesuatu kepada kami.
Meja oke, makanan siap, saatnya untuk menyusun rapi semuanya diatas meja. Semua makanan terlihat enak dan yang paling menarik adalah salah satu menu makanan diolah dari okura yang kami petik pagi hari tadi, rasanya menyenangkan sekali melihatnya. Banyak makanan yang tersedia diatas meja tapi hanya tempura yang akan menjadi sasaranku, rasa-rasanya. Bukan karena makanan yang lain tidak enak hanya saja makanan Jepang yang pada dasarnya tidak memiliki rasa rempah-rempah membuat lidahku masih belum terbiasa memakannya.
Setelah membantu temanku uttuk menyiapkan segala sesuatu untuk pesta malam ini saatnya giliranku dan satu teman Jepangku mempersiapkan diri karenna kami ditunjuk untuk mewakili mahsaiswa Indonesia untuk memberi penyambutan malam ini.
***




Latihan, Tampil didepan penduduk desa

Hajimemasite,
Watashi no namaewa adhe siska desu
Adhe yonde kudasai
Indonesia kara kimashita
Tempura o tabetai desu

Aku hanya perlu mengucakan lima kalimat diatas tetapi membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mempersiapkannya, bukan karena takut ataupun ‘grogi’ tetapi karena tidak ada teman siteku yang percaya kalau aku akan melakukannya dengan baik. Mereka cukup shock ketika aku mengangkat tanganku untuk mengajukan diri mengerjakan tugas ini dan menunjuk teman Jepangku sendiri yang nantinya menjadi partner kerjaku malam ini. Aku sudah menduga reaksi mereka karena biasanya aku lebih banyak menghabiskan waktu mendengarkan mereka berdiskusi dan mengacaukan pekerjaan yang sedang serius mereka kerjakan.
Aku juga masih ingat perdebatan kami mengenai kalimat terakhir, sebenarnya naskah awalnya adalah “okura o tabetai desu” yang artinya saya ingin makan okura dan kalimat ini telah dilatihankan bersama. Latihan hal ini berjalan lancar pada awalnya hingga pada akhirnya saya mengerti arti maknanya dan mengatakan saya tidak menyukai okura hanya tempura. Dan akhirnya tawa kami meledak semuanya, dan buru-buru mengganti teksnya menjadi ‘Tempura o tabetai desu’.
Kadang-kadang aku tidak mengerti kenapa kami bisa tertawa terbahak-bahak ketika berbincang bersama-sama karena sejujurnya tidak ada satupun dari kami yang berkomunikasi dengan lancar. Pada akhirnya kami harus mengucap satu atau dua patah kata bahasa inggris ketika menjelaskan sesuatu dengan sangat perlahan, menggunakan gerakan tubuh yang aneh dengan tujuan agar mereka mengerti ataupun tidak jarang dari kami yang menyerah saja untuk menjelaskan sesuatu ketika kamus pun tidak bisa menjelaskan maksud dari perkataan kami yang sebenarnya.
“Perbedaan membuat kita semakin kaya” kalimat ini adalah kalimat klise yang sudah pasti sering kita dengar diucapkan oleh orang bijak diluar sana tetapi sangat kuyakini kebenarannya sekarang. Pada dasarnya karena kami memiliki perbedaan yang sangat banyak maka kami selalu memiliki sudut pandang yang berbeda ketika melihat sesuatu tetapi tanpa kita sadari membuat kami bisa berdiskusi panjangg dan hebat, belajar saling mendengarkan, dan yang akan selalu keren saat kita bisa mencari jalan tengah dari dua pendapat yang berbeda.

***

Suasana Pesta

Satu persatu penduduk desa berdatangan, mereka saling menyapa kemudian duduk dikursi yang telah kami sediakan. Setelah memberi sambutan dan menerima tepuk tangan yang meriah dari para penduduk desa saatnya memulai pesta.
“Kanpai !!!”
Suara gemuruh orang-orang mengucapkan selamat minum dan dentingan gelas yang saling bertubrukan menjadi pertanda meriahnya pesta malam ini. Semua orang terlihat bahagia tidak terkecuali kami yang sangat merasa senang bisa menjadi salah satu alasan mereka untuk bahagia malam ini.
Para pemuda terlihat menuangkan bir ke gelas sang kakek sambil membungkukkan badan, nenek-nenek yang cantik tadi terlihat cekikikan membahas makanan yang mereka masak sambil tidak henti-hentinya menyuruh kami menghabiskan semuanya, teman-teman indonesia terlihat hanya mengangguk dan sesekali tertawa setelah dibisikkan seseatu oleh teman Jepangku, termasuk bapak kepala desa yang terlihat sangat tampan dan cool malam ini walaupun beliau sudah sangat tua tetapi badannya yang tegak dan senyumnya yang manis sudah dapat memastikanku kalau beliau pasati sangat tampan ketika muda dulu, dan yang paling penting semua orang diruangan ini bahagia.
Disela-sela pesta kami menyempatkan diri untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dari penduduk desa dan kali ini aku berkesempatan bertanya kepada kepala desa yang tepat berada disampingku. Beliau bercerita banyak hal termasuk diantaranya kebahagiaannya dan teman-temannya tinggal di Ogawa, desa yang melahirkan  mereka.

***
Bapak kepala desa adalah seorang pensiunan pegawai pemerintahan dan lebih memilih kembali kesini untuk menghabiskan masa tuanya. Beliau sendiri memiliki dua anak seingatku, satu berada di Amerika dan satunya lagi tinggal di salah satu kota di Jepang. Aku bertanya kenapa beliau tidak tinggal dengan anaknya dan dengan senyumnya yang tampan dan kharismatik itu, beliau mulai bercerita panjang.
Sebagian besar penduduk desa disini lebih memilih kembali setelah tua dibandingkan tinggal dengan anaknya karena kondisi desa Ogawa yang merupakan kampung mereka sendiri jauh lebih menenangkan dibandingkan tinggal dengan anak mereka dikota besar yang bising. Selain itu, mereka merasa tidak enak hati jika harus merepotkan anak mereka, mungkin karena kepribadian mereka yang mandiri. Rata-rata dari mereka bisanya saling berkomunikasi 2-3 kali dalam seminggu dan mendapat kunjungan dihari libur weekend dan hari raya besar.
Beliau pada dasarnya merasa khawatir dengan kelangsungan desa ini karena jumlah penduduk yang semakin sedikit. Beliau khawatir mengenai siapa yang akan menlanjutkan pengelolaan sumber daya yang alam yang masih sangat banyak disini. Tetapi mau diapakan lagi atas keadaan yang telah terjadi saat ini. Sungguh beliau mersa senang kami mau datang kesini menghibur mereka dan beliau juga berharap hal ini kemudian dapat menajadi awal datangnya kembali turis-turis untuk meramaikan desa ini kembali seperti dulu.

***






Setiap malamnya sebelum tidur kami diwajibkan untuk menuliskan kesan kami tentang kegiatan hari ini dan mendiskusikan semua informasi yang telah kami dapatkan. Biasanya kami akan menuliska semua kesan pada sticky note dan ditempelkan pada karton yang berukuran besar dan setelah itu semua orang dapat menanyakan  setiap kata yang ditulis kepada penulisnya.

Awalnya aku tidak mengerti apa tujuan dari kebiasaan ini tetapi tanpa disadari hal ini kemudia membuat kami mudah dalam berdiskusi karena poin utama ditulis dengan  satu  kata sederhana tetapi setelah dijelaskan biasanya punya cerita yang sangat panjang dari masing-masing pemilik kata. Biasanya dengan mudah kita akan mengerti maksudnya dan kemudian membandingkan dengan cerita yang kami miliki.

Setelah bercerita banyak, kami akan menuliskan poin-poin utama yang kami dapatkan hari ini. Berdiskusi, berbagi ide, mencari permasalahan, penyebab dan penyelesaiannya. Hal ini berlangsung setiap harinya rata-rata 2-3 jam setelah makan malam. Setelah berdiskusi barulah kami mandi, mencuci pakaian, ataupun tidur. Salah satu kebiasaan orang Jepang yang sangat menarik adalah kebiasaan mereka yang tidak suka mandi pagi dan sikat gigi dimanapun dan kapanpun.
Selain itu tingkat kejujuran yang sangat dimiliki masyarakat Jepang dicontohkan dengan ketidak khawatiran kami meletakkan barang-barang berharaga milik kami dimanapun. Bahkan tidak jarang ketika aku bangun pagi mendapati pintu asrama kami terbuka lebar yang pada dasarnya memang tidak pernah dikunci.

***

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 Adhe Siska
Theme by Yusuf Fikri